Ibu adalah pahlawan-ku


Baitul Ulum wal Amal - Ibu, Bunda, Ummi, Umi, Mama, Mami adalah deratan nama-nama yang tertuju pada satu sosok yang telah bersusah payah melahirkan anda, iya dialah seorang Ibu. Sosok insan yang jasanya tak terhingga demi perhatian dan kasih sayangnya kepada buah hatinya. Bukan ketika hanya kecil saja, sampai besar sekalipun kasih sayangnya akan tetap sama. Sungguh mengingatkan kita sebuah lagu karya SM Muchtar, salah satu pencipta lagu anak-anak asal Makassar. Lagunya tersebut adalah:

Kasih ibu,
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi,
tak harap kembali,
Bagai sang surya, menyinari dunia.

Tentu, orang tua termasuk ibu tidak pernah mengharapkan agar kasih sayangnya dibalas oleh anak-anaknya, karena harapan terbesar bagi mereka dapat melihat anak-anaknya tumbuh besar, berada dalam kebaikan, dapat sukses, melebihi apa yang mereka telah capai. Mereka adalah pahlawan tanpa jasa, pergorbanan mereka melebihi dari segalanya. Tanpa mengenal waktu dan lelah, demi buah hati tercinta. Dialah yang menjadi sandaran utama setiap keluh kesah anak-anaknya. Wahai ibu, sungguh besar jasa-jasa engkau kepada kami...

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ﴿ الإسراء: ٢٣﴾

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua. (Q.S. al-Isra: 23)

Sebagai seorang anak, tuntunan agama mengajarkan kita agar senantiasa berbakti kepadanya. Seorang anak diminta untuk mendengarkan dan mematuhi setiap perintahnya, selama itu tidak bertentangan ajaran agama. Bahkan tidak menyakiti atau menyinggung perasaanya sekalipun, termasuk bentuk terkecil dari pengabdian kepadanya. Diantara pesan baginda Rasulullah Saw untuk senantiasa berbakti kepada ibu:


PERTAMA
.........................................................................................

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي [1]

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallāhu ‘alaih wa Sallam: “Perbuatan apakah yang paling dicintai oleh Allah?”, beliau menjawab: “Shalat tepat pada waktunya”, Abdullah berkata: “Kemudian apa?”, beliau menjawab: “Berbuat baik kepada kedua orang tuan”, Abdullah berkata: “Kemudian apa?”, beliau menjawab: “Perang di jalan Allah”. Abdullah berkata: “Beliau bersabda kepadaku dengan tiga hal tersebut, andaikatan aku minta tambah niscaya beliau menambahinya”(H.R. Al-Bukhari)

Maksud dari kata al-Birru ialah al-Ihsan, yaitu berbuat baik dengan perkataan dan perbuatan dalam memenuhi hak kedua orang tua. Al-Harāli berkata, al-birru itu adalah selalu berusaha dalam segala perilaku yang indah.



KEDUA
.........................................................................................

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُجَاهِدُ قَالَ لَكَ أَبَوَانِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ [2]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallāhu ‘alaih wa Sallam: “Bolehkah aku jihad (ikut perang)?”, beliau bertanya: “Apakah kamu masih punya kedua orang tua?”, ia menjawab: “Ya”, beliau bersabda: “Maka berjihadlah pada keduanya”.
(H.R. Al-Bukhari)

Pada dasarnya kata jihad merupakan istilah bagi peperangan dalam melawan orang-orang kafir atau para penjajah, namun dalam konteks kedua orang tua, jihad pada keduanya berarti berpayah-payah dalam mengusahakan kemaslahatan dengan senantiasa selalu mengharap keridhaan dari keduanya, karena dalam hadits dikatakan bahwa,


رضا الله في رضا الوالدين, وسخط الله في سخط الوالدين [3]

Keridhaan Allah terdapat pada keridhaan orang tua.
(H.R. al-Tirmidzi)

KETIGA
.........................................................................................

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ [4]

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallāhu ‘alaih wa Sallam, kemudian ia bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berhak mendapat perlakuan baikku?” beliau menjawab: “Ibumu”, ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab: “Ibumu”, ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab: “Bapakmu”.


Menurut Ibnu Bathal, penyebutan ibu sampai tiga kali mengisyaratkan bahwa Rasulullah memerintahkan kita untuk menghormati dan berbakti kepada ibu tiga kali lipat dari bakti dan penghormatan kita kepada bapak, karena kesusah payahanya dalam mengandung, melahirkan, dan menyusui yang dalam hal ini hanya ibu sendiri yang melakukannya, hingga kemudian ketika mendidik baru ayah secara jelas berperan.

Kita juga akui bahwa kedua orang tua tidak ma'sum dari kekhilafan, oleh karenanya memaafkan kesalahan-kesalahannya dan senantiasa mendoakan keduanya, baik yang masih hidup atau yang telah pergi menghadap Sang Khaliq, adalah bentuk pengabdian mulia dari seorang anak.

Menurut uraian ini, admin mengutip sebuah tulisan anonim, yang menggambarkan betapa hebat dan beratnya perjuangan seorang ibu, toh demikian mereka dapat menjalaninya tanpa pernah mendengarkan keluh kesahnya. Itulah ibu, pahlawan yang selalu hadir, di saat sekalipun anda tidak membutuhkannya.


"IBUMU SARJANA APA? "

Ibuku gelarnya adalah MSi; Master Segala ilmu.

Tak terbayang bukan, menjadi ibu yang baik itu harus banyak belajar dan terus belajar, lifelong education istilah kerennya.
  1. Ibu harus belajar Akuntansi, agar bisa mengurus pendapatan keluarga dan mengelolanya untuk kebutuhan rumah tangga, tabungan, serta menata pemasukan & pengeluaran yang seimbang.
  2. Ibu harus belajar ilmu Tata Boga, chef, atau perhotelan, belajar mengatur masakan keluarga dengan kreatif, supaya tidak bosan.
  3. Ibu harus belajar ilmu Keguruan. Ia harus menguasai ilmu yang diajarkan di sekolah dasar, agar bisa mengajari anaknya bila kesulitan dengan PR-nya.
  4. Ibu harus belajar Agama, karena ibu-lah yang pertama kali mengenalkan anak pada Allah, membangun akhlak yang luhur serta iman yang kokoh.
  5. Ibu harus belajar Ilmu Gizi, agar bisa menyiapkan makanan bergizi bagi keluarga, setiap hari.
  6. Ibu harus belajar Farmasi, agar dapat memberi pertolongan awal pada keluarga yang sedang sakit dan menyediakan obat-obatan ketika keadaan darurat.
  7. Ibu harus belajar Keperawatan, karena beliaulah yang merawat anak/suami ketika sakit. Yang menyeka tubuhnya ketika tidak diperbolehkan mandi, mengganti kompres. Ibu adalah perawat yang handal.
  8. Ibu harus belajar ilmu Kesehatan, agar bisa menjaga asupan makanan, kebersihan melindungi anggota keluarga dari gigitan nyamuk, dll.
  9. Ibu harus belajar Psikologi, agar bisa berkomunikasi dengan baik saat menghadapi anak-anak di setiap jenjang usia, juga sebagai teman curhat suami yang terbaik, ketika suami sedang mengalami masalah.
  10. Ibu juga bisa cari uang (bekerja)
Seandainya ibu harus kuliah dulu, butuh berapa lama? Bisa jadi lebih dari 9 jurusan di atas tadi. Begitu luar biasanya seorang ibu, dengan multi talentanya, kesabarannya merawat, mendidik & menemani anak-anak dan suami tercinta. Sudahkah kita memberikan yang terbaik untuk ibu kita?

“Seorang ibu bisa merawat 10 anak, namun 10 anak belum tentu bisa merawat satu ibunya." 

ENDNOTE
  • [1]Shahīh Al-Bukhāri,Kitab al-Adab, Bab Qaulullāh Ta’āla Wawashashainal Insāna bi Wālidaihi Husnan , Hadits No. 2697, (Kairo: Dār at-TaqwaLi at-Turāts,2001) Juz III, hal. 209. Shahīh Muslim, Bab Bayān Kaun al-Imān billāh Ta’āla Afdhal al-A’māl,Hadits No. 120, 121, 122, 123, (Kairo: Dār al-Hadīts, 1997) , Juz III, hal. 200.Sunan At-Tirmidzi, Kitab al-Birr wa ash-Shillah, Bab Mā Jāa fi Birr al-Wālidain, Hadits No. 1898, (Kairo: Dār al-Hadīts, 2005), Juz IV, hal. 88. Musnad Ahmad, Bab Musnad ‘Abdullāh bin Masūd.
  • [2] Shahīh Al-Bukhāri, Kitab al-Adab, Bab Lā Yujāhidu Illa bi Idzni al-Wālidain, Hadits No. 5515, (Kairo: Dār at-Taqwa Li at-Turāts 2001) Juz 3, hal. 209. Shahīh Muslim, Birr al-Walidaini wa Annahuma Ahhaqun bihi, Hadits No. 4623. Sunan Abu Dawud, Bab Fi ar-Rajul Yaghzū wa Abawāhu Kārihāni, Hadits No. 2167. Sunan At-Tirmidzi, Bab Mā Jāa fi Man Kharaja fi al-Ghazwi wa Taraka Abawaihi, Hadits No. 1594. Sunan An-Nasa`I, Ar-Rukhshah fi at-Takhalluf Liman Lahu Wālidān, Hadits No. 3052. Musnad Ahmad, Bab Musnad ‘Abdullāh bin ‘Amr.
  • [3] Sunan At-Tirmidzi, Kitab al-Birr wa ash-Shillah, Bab Mā Jāa fi Birr al-Wālidain, Hadits No. 1898, (Kairo: Dār al-Hadīts, 2005), disahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim.
  • [4] Shahīh Al-Bukhāri, Kitab al-Adab, Bab Man Ahaqqu an-Nās bi Husni ash-Shuhbah, Hadits No. 5514, (Kairo: Dār at-Taqwa Li at-Turāts 2001) Juz 3, hal. 209. Shahīh Muslim, Birr al-Walidaini wa Annahuma Ahhaqun bihi, Hadits No. 4621.

SEKIAN
Sumber SQ Blog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar